Sejarah dan Perkembangan Sepeda Dari Masa ke Masanya

kabar kaltim hari ini terbaru

Sejarah dan Perkembangan Sepeda Dari Masa ke Masanya

Menurut kabar kaltim hari ini terbaru, sepeda untuk pertama kalinya ditemukan oleh Baron karl Drais von Sauerbronn, yang merupakan seorang kepala pengawas hutan di Jerman. Untuk menunjang tugasnya sebagai kepala pengawas hutan, tentunya ia membutuhkan alat transportasi dengan mobilitas tinggi. Mengingat akan hal itu, Karl langsung melakukan inovasi berupa sepeda roda tiga tanpa pedal.

Pada 12 Juni 1817 silam lalu, Karl melakukan perjalanan perdananya dengan sepedanya tersebut dari kota Mannheim ke Schwetzinger Relaishaus. Bahkan, perjalanan Karl ini langsung dimuat dalam Koran lokal Jerman. Sepeda buatan Karl diberi nama Draisienne, yang langsung mendapatkan gelar duke pada tanggal 12 Januari 1818 berkat kreatifitasnya.

Perkembangan Sepeda di Indonesia

Alat transportasi sepeda di Indonesia mulai populer pada masa penjajahan Belanda, yang kerap digunakan oleh mereka untuk menunjang kegiatan sehari-hari. Itu sebabnya, mengapa pada zaman dulu sepeda hanya dimiliki oleh kalangan kolonial Belanda dan bangsawan saja. Seiring dengan perkembanga teknologi yang semakin pesat di tahun 1960an, popularitas sepeda pun mulai tergeser oleh keberadaan motor dan mobil.

Ada beberapa sepeda kuno buatan Inggris yang sempat populer di pasaran, seperti Humber Cross (1901), Raleigh (1939), Philips (1956), dan Hercules (1922). Sedangkan sepeda kuno buatan Belanda diantaranya adalah Batvus (1920), Gazelle (1925), Valuas (1940), Master (1950), dan masih banyak lagi yang belum diketahui.

Sepeda-sepeda Kuno buatan Belanda 9Dutch bike) kerap dijuluki dengan nama onthel, atau masyarakat lokal menyebutnya dengan nama sepeda unta. Hingga memasuki abad ke-21, masih ada beberapa koleksi sepeda buatan Belanda di awal abad ke-20, dimana salah satunya yang paling banyak dicari adalah merk Veeno.

Tak hanya onthel, kita juga tentunya sudah tidak asing lagi dengan istilah “jengki” yang berasal dari kata “yankee”. Ya, julukan tersebut ditujukan bagiproduk-produk buatan orang Amerika di tahun 1960an. Bahkan, presiden Ir. Soekarno sempat melarang masuknya produk-produk buatan barat, sehingga pada saat itu produk yang terbuat dari Belanda dan juga Eropa tidak dapat memasuki pasar Indonesia. Momen tersebut pun dimanfaatkan oleh para produsen sepeda asal China.

Jika dilihat dari sgei rangkanya, sepeda buatan China ini jauh lebih ringan dengan ukuran yang relative kecil ketimbang sepeda buatan Eropa. Itu sebabnya, sepeda buatan China mudah diterima oleh masyarakat Indonesia. Tak hanya sepeda jengki, sepeda balap juga sebenarnya sudah populer di Indonesia sebelum Perang Dunia II. Hal itu terbukti, dimana ada beberapa pebalap sepeda professional Indonesia yang dibiayai oleh perusahaan seperti Mansonia, Trumph, dan Hima.

Pada masa itu, kegiatan balap sepeda terpusatkan di kota Semarang, Jawa Tengah. Bahkan, di kota Semarang ini telah didirikan velodrome oleh arsitek Ooiman dan Van Leeuwen. Namun, kegiatan tersebut terpaksa harus berhenti saat Jepang menginvasi Indonesia. Setelah masa proklamasi, kegiatan balap sepeda pun digelar kembali di kota Semarang.

Pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-2 tahun 1951, balap sepeda resmi terdaftar sebagai cabang olahraga yang diperlombakan. Ada beberapa daerah di Indonesia yang membentuk komunitas balap sepeda, yang kemudian berdirilah Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) pada tanggal 20 Mei 1956 di Semarang.

Dari sekian banyaknya jenis sepeda modern yang ada di Indonesia, jenis sepeda gunung inilah yang paling banyak diminati olah masyarakat. Sepeda tersebut pada awalnya di promosikan pada tahun 1977 oleh mereka Joe Breeze, kemudian Gary Fisher, dan juga timnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *